Menjadi Perempuan Bali Itu Tidaklah Mudah, Apalagi Kelak Harus Beradaptasi Dengan Lingkungan Keluarga Barunya | Prempuan Bali

Menjadi Perempuan Bali Itu Tidaklah Mudah, Apalagi Kelak Harus Beradaptasi Dengan Lingkungan Keluarga Barunya
Ilustrasi Photo By https://instagram.com/ayushely


Menjadi Perempuan Bali Itu Tidaklah Mudah, Apalagi Kelak Harus Beradaptasi Dengan Lingkungan Keluarga Barunya

Seorang perempuan Bali ketika akan mengarungi bahtera kehidupan berkeluarga. Memerlukan tekad, cinta kasih yang besar untuk perempuan Bali meninggalkan rumahnya sendiri untuk memasuki rumah yang dijanjikan oleh pendampingnya sebagai rumah barunya. Rumah yang dipenuhi kasih sayang sama besar kasih sayangnya seperti rumah asalnya. Namun, dikenyataan belum tentu seindah yang dibayangkan.Namun, tidak semua perempuan Bali beruntung menempati rumah barunya dengan penuh kebahagiaan. Terkadang rumah baru dan keluarga baru yang menjadi impian indahnya berubah menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan.Untuk calon keluarga baru bagi perempuan baik mertua, ipar, dan keluarga lainnya. Mohon sayangi, cintai, hormati pilihan kedua insan yang saling mencintai ini.

Perempuan Rela Memilih Meninggalkan Orang Tuanya Demi Sang Pujaan Hati

Perempuan yang hadir ditengah keluarga baru ini dengan ikhlas meninggalkan orang tuanya, mengabdi hingga akhir hayat untuk pujaan hatinya, belum lagi ketulusan untuk mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan calon penerus keluarga selanjutnya. Tidak mudah bagi seorang perempuan untuk memilih dan datang sendiri ke sebuah keluiarga baru. Kemudian harus menyesuaikan diri sedemikian rupa untuk dapat bersama keluarga barunya. Banyak kemungkinan yang terjadi, konflik batin, ketidak cocokan dibanyak hal dan kadang harus tetap bertahan demi suaminya. Meskipun sebenarnya yang sering ditutup tutupi hingga menimbulkan stres bahlan depresi.

Seorang perempuan ikhlas meninggalkan rumahnya yang merupakan tempat ternyamannya sejak kecil. Hanya demi cinta, menaati, mengikuti dan membahagiakan sang suami. Dengan harapan bahawa suami yang akan menjadi pengganti orang yang menyayanginya dan menjadi tempat ternyamannya setelah meninggalkan rumahnya.

Ketika Menikah Bagi Seorang Perempuan Tentu Banyak Pertimbangan

Ketika menikah bagi seorang perempuan harus membuat keputusan yang cukup besar, meski itu merupakan sesuatu yang sudah kodratnya. Masuk ke sebuah keluarga, lingkungan hingga pergaulan yang baru. Apalagi tantangan berat terkadang datang dari mertua, ipar hingga suami sendiri. Hal tersebut karena beberapa dari sang keluarga kemungkinan masih memiliki pandangan skeptis, bahwa perempuan hanyalah pelengkap saja. Sehingga perempuan dipandang hanya sebagai tukang bersih-bersih rumah, buat banten dan lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan rumah. Sedangkan dilingkungan keluarga yang terpelajar, mengerti fungsi perempuan sebagai menantu bukan pelengkap saja. Dalam realitas modern sekarang peran perempuan pun semakin meningkat. Perempuan bisa menjadi ibu rumah tangga sekaligus wanita karier. Hal ini kini sudah menjadi hal yang wajar dalam masa kesetaraan gender. Jika mendapat suami dan keluarga yang sangat pengertian kemungkinan mereka tidak akan menuntut sang wanita untuk bisa total mejejaitan, memasak dan pekerjaan rumah lainnya apalagi dikala seorang istri juga mencari nafkah. Wanita Hindu akan selalu melihat situasional cara dirinya. Ketika dia tidak sempat belajar atau membuat banten, mereka bisa membeli yang sudah ada. Jangan dipaksa sudah mencari nafkah mesti pintar mejejaitan. Tujuan dari tidak memaksa akan kehendak total bisa mejejaitan dan masak akan membuat istri merasa dihargai dan akhirnya timbul saling pengertian baik antara suami dan istri serta keluarga besarnya.

Model pemahaman ini kadang fakta dikenyataan tidak jarang wanita lebih bagus kariernya daripada pria. Maka, hargailah perasaan seorang perempuan karena kebahagiaan itu diciptakan bukan terciptakan.

Posting Komentar