Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menjadi Seorang Perempuan Tidaklah Mudah Apalagi dalam Adat Bali | Prempuan Bali

Menjadi Seorang Perempuan Tidaklah Mudah Apalagi Dalam Adat Bali
Ilustrasi Photo Via https://instagram.com/adeyuniarii


Menurut pandangan Hindu kedudukan laki-laki dan perempuan sama-sama terhormat, yang membedakan adalah tugas, kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai kodrat manusia. Namun dalam kenyataannya dalam penerapan hukum adat di Bali masih sangat kontras dengan adanya ketidaksetaraan gender. Hukum adat di Bali sangat kental dipengaruhi oleh budaya partriarki, dimana di dalamnya Hukum Adat Bali kedudukan laki-laki dianggap lebih tinggi dari perempuan.
Budaya partriarki masih memandang perempuan lebih rendah dari laki-laki. Terutama dalam hal perkawinan adanya konsep predana yang dianut oleh masyarakat Bali sebagai refleksi dari ajaran Agama Hindu tentang jiwa (purusa) yang identik dengan laki-laki dan material (predana) yang identik dengan perempuan. Tetapi akan sangat keliru jika kemudian konsep predana dan prakerti ini diidentikkan dengan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial. Karena pada kenyataannya setiap manusia dalam pandangan Hindu disebut Bhuana Alit memiliki kedua asas tersebut.
Bali yang menganut agama Hindu menjadikan perempuan Bali harus tunduk terhadap peraturan agama dan adat – istiadat yang dimiliki oleh orang Bali. Masyarakat Bali sangat terikat dengan tradisi, bahkan tradisi dijadikan agama bukan agama yang ditradisikan. Sehingga perempuan Bali harus mengikuti budaya seperti ini.
Perempuan Bali mulai mengambil posisi yang untuk mengangkat harta dan martabatnya sebagai perempuan. Baik dari segi pendidikan, keluarga, dan masyarakat.

1. Pendidikan
Pekerjaan konvensional perempuan yang wajib dilakukan dalam rumah tangga seperti memasak, mencuci, melayani suami, mengasuh anak, mejejaitan dan lain sebagainya dianggap pekerjaan kurang bergengsi. Melompatlah para perempuan untuk menduduki jabatan disegala bidang dan memiliki motivasi besar untuk emncapai ilu serta pendidikan yang tinggi agar dapat meraih semua impian tersebut.

2. Rumah Tangga
Dalam sebuah rumah tangga yang ideal, seorang istri sudah sepatutnya di rumah sebelum suami pulang bekerja. Namun, hal seperti ini tidak seharusnya dijadikan landasan sebagai upaya untuk mengekang hak dan martabat sebagai perempuan. Kesetaraan gender yang telah tercipta di dalam sebuah rumah tangga yang ahrmonis, tentu saja tidak pernah mengubah kodrat perepuan sebagai mahkluk yang harus mengurusi rumah tangga. Meskipun perempuan sudah bekerja diluar rumah tetap saja tidak melupakan pengabdian kepada keluarga. Mereka tetap menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anak dan menjadi istri yang diandalkan oleh seorang suami.

3. Masyarakat
Khususnya perempuan Bali lebih berbeda dari yang lain. Dia lebih banyak memiliki tanggungjawab, di dalam keluarga, pekerjaan dan juga masyarakat. Orang Bali sangat terkenal dengan budaya dan adat istiadat yang sudah menjadi tuntutan harus dilaksanakan. Perempuan Bali harus ikut turun tangan dalam adat istiadat daerahnya masing-masing.

4. Penunjang Ekonomi Keluarga
Banyak perempuan yang mencoba mengekspresikan diri lewat bekerja. Di era globalisasi ini perempuan tidak bisa diam saja di rumah menunggu suami pulang membawa uang. Mengingat tingkat biaya hidup yang relatif tinggo dan biaya sekolah anak juga tergolong tinggi. Hal tersebut yang menjadikan banyak perempuan ingin bekerja guna menunjang kehidupan ekonomi keluarga.

Keadaan seperti inilah yang menjadikan perempuan dihadapan dengan sebuah masalah yaitu “peran ganda”. Dalam bentuknya yang sulit. Terkadang perempuan harus memillih menikah dulu atau sukses dulu, menjadi ibu rumah tangga atau menjadi wanita karir. Jadi untuk kamu Perempuan Bali sungguh hebat dan perjuanganmu sangat tidak sia-sia. Semangat untuk mencapai kesuskesan dan kebahagiaan yang kamu inginkan.