Untuk Kamu yang Bermimpi, Namun Selalu di Patahkan Berulang Kali, Ada SALAM dari Suksesmu Hari Ini

 

Untuk Kamu yang Bermimpi, Namun Selalu di Patahkan Berulang Kali, Ada SALAM dari Suksesmu Hari Ini

Photographer from Pexels via https://www.pexels.com

Hari ini bulan malu-malu menampakkan wajahnya. Ia bersembunyi di balik awan hitam, sesekali mengintip, memastikan adakah yang memperhatikannya? Aku, mengendarai motor mencoba sesekali melihatnya, berharap pandangan kami saling bertemu. Alih-alih dapat saling memandang dengan bulan, malahan jajaran lampu jalan secara bergantian menyapaku dengan ramah.

Udara yang dingin, kesendirian di atas motor, membuat pikiranku melambung, terbang menembus awan, memasuki dimensi cakrawala jiwa yang jarang sekali aku kunjungi. Entah kapan terakhir kali aku merasakan hal seperti ini.

Dalam gelap aku berjalan, menyusuri lorong, yang lembap. Tanpa sadar aku sampai di depan ruang yang dari pintunya terlihat cukup usang. Di pintu tersebut tertulis ukiran membentuk kata renjana. Entah apa artinya.

Aku mencoba mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang membukakan. Agak lancang aku mencoba membukanya, dan ternyata ruang tersebut tidak dikunci. Setelah aku memberanikan diri untuk masuk, di dalamnya terdapat sebuah kursi kayu dan meja belajar yang terbuat dari kayu juga. Dinding-dindingnya dihiasi berbagai gambar seni yang seakan-akan aku kenali, padahal aku belum pernah datang ke sana. Lampunya pun redup, seakan-akan mau mati, sepertinya hanya tinggal menghitung hari.

Di atas meja terdapat sebuah buku yang usang dan sepertinya sudah bertahun-tahun tidak disentuh. Aku berjalan, duduk di atas kursi dan mencoba membuka lembaran demi lembaran.

Dalam lembar pertama tertulis, “Hari ini aku memberanikan diri untuk bermimpi, menentukan tujuan hidup yang tadinya kosong tanpa arah. Aku mau berjuang, belajar, berlatih, untuk mewujudkan mimpiku menjadi seorang penulis.”

Aku teruskan membaca, baris demi baris, paragraf demi paragraf, dan lembar demi lembar. Aku menyadari ternyata buku itu adalah sebuah buku harian tentang seseorang yang berjuang dengan berlatih setiap hari, belajar menikmati gagalnya, dan dengan berani terus mencoba mewujudkan mimpinya.

Sampai pada sebuah lembar, cerita tersebut menggantung, tanpa ada lanjutannya. Di situ tertulis, “hari ini tepat 6 bulan naskahku menggantung di kantor para penerbit. Salahkah aku menghidupi mimpi ini? Entah apa yang harus aku lakukan. Sepertinya aku akan berhenti.”

Bingung, pikiranku penuh pertanyaan, milik siapakah buku ini? Milik siapakah ruang yang di depannya tertulis renjana itu? 

Aku berkeliling, melihat gambar-gambar yang ada di dinding. Memang semuanya hanya gambar, bentuknya pun tidak terlalu bagus, tetepi aku tahu benda atau momen apa yang ingin digambar.

Ada mentari, bumi, hujan, awan, langit, buku, pena, kamera, lensa, panggung beserta gemerlap cahayanya, serta sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, seorang anak laki-laki, dan perempuan.

Aku kembali duduk, melihat lembaran-lembaran kosong, siapa tahu ada informasi yang tersembunyi. Tetapi hasilnya nihil, sampai pada akhir halaman buku itu, tepat dibaris paling bawah tertuliskan sebuah nama yang membuat aku terkejut. Pada halaman terakhir tersebut tertulis namaku, ternyata buku itu adalah milikku.

Seketika lampu ruangan yang tadinya redup menyala dengan terang. Aku masih bingung, tetapi perlahan cakrawala pikiranku terbuka. Tanpa sadar, bibirku tersenyum dan hatiku terasa hangat. Aku mengingat semuanya.

Benar, buku itu, ruangan ini, gambar-gambar seni yang di sekitarnya adalah milikku.

Kenangan yang hilang, kenangan yang sempat ingin dihapus karena kekecewaan terhadap banyak kegagalan dalam hidup.

Waktu itu aku memang memutuskan untuk mengubur dalam-dalam mimpiku karena sepertinya hidup tidak memihak, langit hanya menjadi penonton, dan bumi tidak mau memberikan jalan sedikit pun.

Tetapi semesta punya rencana. Renjana yang sempat terkubur seakan-akan memaksa untuk keluar memamerkan kobarannya. Lampu yang tadinya redup, seketika kembali terang menggambarkan semangat yang kembali lahir dalam hati.

Ya, beberapa tahun terakhir aku memang sempat menyerah pada hidup, menjalankan semuanya seperti orang-orang kebanyakan tanpa ada makna lebih dari setiap langkah yang dijejakan. Menjalankan hal-hal itu membuat aku mati, walaupun masih hidup. Aku melupakan mimpi-mimpi yang sempat diperjuangkan dengan begitu keras.

Setiap peristiwa terjadi pasti karena suatu alasan, dan apa yang semesta berikan hari ini juga pasti ada alasannya. Hari ini di dalam ruang renjana, ruang yang adalah milikku, semesta menyadarkan satu hal. Takdir dari sebuah mimpi. Ternyata, takdir dari sebuah mimpi adalah untuk diwujudkan.

Seperti ruang renjana yang ditakdirkan untuk menjadi pengingat, menyadarkanku untuk kembali berjuang merajut benang-benang mimpi setinggi-tingginya.

Sesampainya di rumah, bergegas aku mencari sebuah buku yang sempat tersimpan bertahun-tahun lamanya. Setelah kutemukan, aku duduk di depan meja, mengambil sebuah pena dan melanjutkan menulis cerita yang gantung beberapa tahun terakhir. Aku tidak tahu bagaimana akhirnya. Apakah akan bahagia ataupun tidak. Tetapi satu yang pasti, aku memutuskan menjalankan takdir dari mimpiku, yakni untuk terus menulis apapun yang terjadi.

Saat ini, untuk kamu yang sedang bingung, jangan putus asa untuk mencari renjanamu. Untuk kamu yang telah menemukannya, ayo semangat untuk mewujudkannya. Untuk kamu yang sedang putus asa, ingatlah kegagalan adalah hal yang biasa dalam hidup, Ayu bangkit lagi. Untuk kamu yang sudah mewujudkannya, selamat! Dan hidupi terus renjanamu.

Untuk siapapun, dan di titik manapun, ingatlah takdir di ruang renjana. Bahwa sebuah mimpi ditakdirkan untuk diwujudkan, apapun yang terjadi. Jangan sampai dia datang lagi dalam bentuk penyesalan di usia tuamu.

Selamat berjuang!

"A writer is a writer not because he writes well and esily, because he has amazing talent, or because everything he does is golden. A writer is a writer because, even when there is no hope, even when nothing you do shows any sign of promise, you keep writing anyway." 

– Junot Diaz, Professor of Writting, Winner of the Pulitzer Prize for Fiction, 2008

Posting Komentar