Maaf Bukannya Arogan, tapi Saat Ini Saya Libur Dulu Bicara Soal Jodoh dan Pernikahan libur ngomongin jodoh

 

Maaf Bukannya Arogan, tapi Saat Ini Saya Libur Dulu Bicara Soal Jodoh dan Pernikahan libur ngomongin jodoh

Mereka bilang di usia saya saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyeriusi topik pelaminan. Perbincangannya bukan lagi sekadar siapa, tapi lebih kepada kapan dan di mana saya segera dihalalkan. Memang di usia yang mulai matang ini, obrolan seputar teman hidup dan pernikahan selalu mengasyikan untuk dibahas. Bayangan akan romansa pengantin baru dan memiliki anak yang lucu membuat wanita di mana pun jadi berharap untuk segera digenapkan.

Hanya sekadar membayangkannya terbilang menyenangkan memang. Namun akan jadi memuakkan mana kala orang terdekat semakin sering mengajukan pertanyaan “kamu kapan dihalalkan?”. Ingin rasanya saya memasang spanduk besar di atas kepala yang bertuliskan:

Maaf, saya libur dulu bicara jodoh dan pernikahan!

Saya jenuh dengan pertanyaan jodohnya ke mana. Bisakah saya libur dulu menjawabnya?

Indonesia memang negeri yang unik. Negeri di mana wanita yang memilih untuk melajang di usia 24-25 tahun mulai ditakuti dengan sematan “nggak laku” atau “perawan tua”. Berbeda dengan di negeri Gingseng Korea sana, di mana penduduk wanitanya bebas untuk menikah di usia berapa saja. Usia 30 atau bahkan 40-an, santai saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak perlu takut menjadi cibiran tetangga. Sayangnya, saya lahir dan besar di negeri ini, negeri yang kurang ramah pada wanita lajang.

Ketika perempuan muda di keluarga sudah nyaris menikah semua, akan tiba gilirannya kamu dihujani pertanyaan “Kamu kapan? Nggak baik lho menunda-nunda~” Sederet pertanyaan yang membuat jenuh dan penuh isi kepala.

Akan mudah jika semua orang mengerti. Pada waktunya, saya pasti akan menikah. Namun tidak untuk sekarang

Hampir semua wanita pasti ingin menikah.

Tak munafik, perempuan muda mana yang tidak ingin menjadi istri dan ibu yang bersahaja? Hampir semua wanita di dunia ini pasti ingin menikah. Hanya waktu saja yang menjadi pembedanya.  Sebagian kamu mungkin siap-siap saja menikah di tengah bangku kuliah,  Adapun yang lain baru siap menikah setelah menamatkan gelar sarjana dan mencicipi fase pekerjaan pertama. Sementara saya akan menikah pada waktunya, waktu terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk saya dan pendamping saya kelak.

Mereka mungkin lupa bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dipersiapkan dalam semalam

Pernikahan tidak bisa disiapkan dengan instan.

Pernikahan bukan hanya tentang resepsi dan akad saja. Persoalannya tak berhenti sampai di situ. Ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar konsep pernikahan, baju pengatin, atau urusan sewa gedung sekalipun. Yakni kesiapan saya dan pendamping saya menata masa depan kami nantinya. Akan sangat konyol jika saya memutuskan menikah hanya karena umur atau ikut-ikutan tren semata. Hei, pernikahan tak bisa dengan mudah dipersiapkan dalam waktu yang singkat.

Saya meyakini dia yang tertakdirkan untuk saya, saat ini tengah sibuk mengusahakan masa depan juga

Kami sama-sama tengah mengusahakan masa depan.

Saya percaya bahwa dia yang kelak saya juluki sebagai teman hidup, kini tengah disibukkan dengan rutinitas pekerjaan. Sama seperti saya yang tengah menata masa depan, dia pun demikian. Ketimbang sibuk mempercantik diri dengan makeup tebal yang tidak mewakili diri, saya lebih memilih menyerahkan segalanya pada Dia Sang Maha Cinta.

Jika sudah kehendaknya, semesta pun akan mempertemukan saya dan dia. Soal jodoh, saya berikhtiar dengan jalan memperbaiki diri. Memperbaiki diri bukan hanya soal penampilan tapi juga tentang tidak lagi menjadi egois dan menepikan ambisi. Hingga saat dipertemukan dengan teman hidup, saya sudah siap untuk membagi hidup saya dengannya.

Bukan karena kemapanan, urusan jodoh saya kesampingkan demi menabung pengalaman. Agar ada cerita untuk anak-cucu kelak

Traveling adalah salah satu jalan memperkaya pengalaman.

Saya tak akan menjadikan karir dan kemampanan sebagai alasan untuk menunda pernikahan. Memilih untuk tetap melajang semata karena saya merasa hidup saya selama ini masih kering dengan pengalaman. Menjelajahi pelosok negeri, mencicipi dinginnya salju, menyimpan daun Maple yang menguning di dalam saku, hingga menantang diri dengan olahraga yang ekstrem. Kesemua itu belum pernah saya rasakan.

Karenanya sebelum waktunya mendedikasikan diri menjadi ibu rumah tangga, saya ingin mengoleksi pengalaman dan cerita perjalanan yang kaya. Agar bisa saya ceritakan pada anak-cucu kelak.


Rehat sejenak dari obrolan soal pernikahan bukan berarti saya memilih untuk melajang seumur hidup. Pada waktunya nanti, pernikahan akan lebih dari sekadar bahasan. Tetapi menjadi hal yang benar-benar saya usahakan dan persiapkan dengan matang.

Posting Komentar